Senin, 23 November 2009

Ruh amal itu adalah ikhlas

"Ada beraneka ragam jenis amal menurut situasi dan kondisi yang masuk kedalam hati manusia. Kerangkanya adalah perbuatan yang jelas, sedang ruhnya adalah ikhlas"

Tanda dari semua kemakrifatan dan sifat al ihsan kepada Allah tidak lain adalah tekun dan rajin beribadah. Itu semua dilaksanakan menurut kehendak dan niat tiap hamba. Memperbanyak amal ibadah juga menurut kemauan dan kemampuan hamba itu sendiri-sendiri. Ada yang bagus sholatnya, ada yang bagus puasanya, ada yang bagus wiridnya, ada pula yang bagus sedekah dan infaknya. Disamping itu ada pula yang tekun membaca Al-Qur'an dan memahami artinya, ada pula yang tekun mempelajari ilmu.

Amal ibadah itu terikat dengan niat seseorang, dan ia berlaku sesuai dengan niat pula. Hasil dari suatu amal ibadah ditentukan oleh bagaimana seseorang menempatkan niat dalam hatinya ketika beramal ibadah.

Amal ibadah yang kuat tegaknya dan kokoh ikatannya dengan iman ialah dilaksanakannya oleh hati yang ikhlas. Karena ikhlas adalah ruh amal, dan amal itu menunjukkan tegaknya iman.

Ikhlas beramal menunjukkan bagaimana seorang hamba menyatakan dirinya dihadapan Allah ketika beribadah. Serta menghidupkan ikhlas sebagai salah satu syarat dalam beramal ibadah. Amal ibadah yang ikhlas ialah dengan melaksanakan semata-mata karena Allah belaka. Beribadah karena Allah dan memohon hanya kepada-Nya.

Dalam Al-Qur'an disebutkan, "Kami tidak menyembah kecuali kepadamu, dan kami tidak menyekutukan Engkau dalam ibadah kami." Pernyataan ibadah yang ikhlas ini menjadi syarat diterimanya ibadah seorang hamba.

Adapun lawan dari ikhlad itu riya' yang bersifat khafi (ringan) atau jelas-jelas berbuat riya' berat. Sedang riya' akan merusak iman, karena termasuk sifat syirik walupun ringan. Riya' umumnya melakukan amal ibadah dengan rasa bangga diri dan angkuh. Suka mempertontonkan amal untuk mencari pujian dan sanjungan manusia.

Amal dalam ikhlas itu ada dua cara. Pertama, beramal karena Allah, tidak ada sandaran amal selain karena Allah Ta'ala belaka. Inilah sifat ahli ibadah. Kedua, beribadah atas kehendak Allah sesuai dengan tata tertibnya dan peraturan Allah, inilah sifat hamba Allah.

Imam Abi Qasim Al Qusyairy menerangkan dua kedudukan ini dengan penjelasan bahwasanya hal ini menunjukkan dua kedudukan yang saling menjelaskan diantara keduanya. Kedua hal ini sebenarnya tidak saling bertentangan, karena yang pertama adalah raganya ibadah, berupa hukum, dan yang kedua adalah jiwanya ibadah berwujud ikhlas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar