Senin, 23 November 2009

Beramal agar termasyhur

"Tanamlah wujud dirinya pada tanah yang dalam, karena tidak akan tumbuh suatu tanaman pun, apabila tidak ditanam."

Syekh Ahmad Ataillah mengingatkan,"Tidak ada amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan beramal agar termasyhur" Karena perbuatan itu walaupun demi kebaikan namamu, akan tetapi bertolak sebagai amal yang ikhlas. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apalagi diikuti kehendak lain yang bukan ibadah, akan membawa si hamba angkuh dan lupa diri. Karena disaat tertentu musuh manusia yang bernama Iblis akan mudah merasuk kedalam hati anak Adam yang kelak akan dapat menghancurkan diri dan imannya. Memilih kemasyhuran melalui amal ibadah sangat bertentangan dengan tujuan ibadah itu sendiri.

Ibrahim bin Adham mengingatkan bahwasanya perbuatan ingin kemasyhuran melalui ibadah, adalah karena terlalu mencintai dunia dan kedudukan. Abu Ayyub Al Baktiyani mengingatkan, bahwasanya Allah tidak membenarkan seorang berlaku demikian, kecuali ia merahasiakan dan tidak menyiarkan amal ibadahnya.

Seorang sufi yang bernama Basyar Ibnu Haris berwasiat; Janganlah keinginanmu untuk dikenal, karena akan menghilangkan nilai agamamu, dan karenannya tidak akan menerima manisnya akhirat.

Sesungguhnya keinginan terkenal melalui ibadah kepada Allah adalah perbuatan yang kerdil dan kotor, karena orang seperti ini jelas-jelas tidak mengenal dirinya sebagai hamba Allah. Sebab seorang hamba yang mengenal dirinya seharusnya tawadu' tidak memamerkan kelebihan ibadahnya. Sebab dengan tawadu' itu akan mampu membersihkan dirinya, dan mengangkat pada maqam yang tinggi serta mendapatkan kecintaan yang sebenar-benarnya.

Keinginan untuk dikenal sebagai ahli ibadah telah membuat cacatnya ibadah dan rusaknya amal. Nabi Isa as. bertanya kepada sahabat-sahabatnya,"Dimana biji itu tumbuh"?" sahabat-sahabatnya menjawab, "Di bumi." Nabi Isa as. pun menjelaskan bahwa hikmah tidak akan tumbuh melainkan dikedalaman hati, seperti kedalaman bumi. Biji yang akan tumbuh menjadi batang dan buah lahir dari tempat yang orang lain tidak tahu keberadaannya, tersembunyi dibalik bumi, akan tetapi ia memberikan manfaat kepada manusia dan alam sekitarnya tanpa mengatakan apa-apa tentang pertumbuhannya itu. Nabi Muhammad Saw mengingatkan bahwasanya ibadah shalat dan ibadah yang lainnya yang paling mulia dan indah adalah melakukannya dengan sempurna dan orang lain tidak mengetahuinya. Ibadah yang dirahasiakan adanya.

Banyak kisah-kisah sahabat dan para waliyullah yang menceritakan kebesaran jiwa dan keagungan martabat ibadah mereka yang tidak suka ibadah mereka dipamerkan, atau dirinya dikenal sebagai ahli ibadah. Berusaha menghindarkan diri dari kemasyhuran duniawi yang rendah. Ia lebih mengkhususkan dirinya dalam ibadah yang tersembunyi serta meninggalkan keramaian duniawi yang bisa merusak amal ibadah dan merendahkan martabatnya dihadapan AllahSwt.

Pengalaman dan penghayatan rohani yang suci menghendaki seorang hamba dalam ibadah lebih mengutamakan mencari ridha Allah dari pada ridha manusia. Keabadian yang sesungguhnya dan kenikmatan ibadah yang sebenarnya berada pada keheningan, jauh dari hiruk pikuk yang akan membuat ibadah menjadi rusak. Cara yang paling baik untuk menghilangkan rasa riya' dari kemasyhuran diri dari seorang hamba ialah dengan menanamkan rasa tawadu' dan rasa malu dalam hatinya berhadapan dengan Allah. Pamer amal tidak hanya merusak keimanan, akan tetapi juga mencemari hati manusia dengan bercak-bercak hitam, yang kelak akan menutupi seluruh permukaan hatinya. Akibat lainnya ialah lahirnya rasa angkuh yang merendahkan jiwa. Nabi bersabda,"Barang siapa yang berendah diri, maka Allah akan mengangkatnya kepada martabat kemuliaan. Barang siapa berlaku angkuh, maka Allah akan merendahkan martabatnya. Sesungguhnya Allah suka kepada orang taqwa lagi suka menyamarkan dirinya dari ketenaran dunia. orang-orang ini kalau tak tampak tidak pernah dicari, kalau mereka hadir tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu yang selalu menunjukkan arah."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar