Kamis, 10 Desember 2009

Grosir

Grosir PRATAMA Collection
Menerima Pesanan :
Tas Wanita, Tas Kerja, Dompet Wanita, Dompet Laki-laki
Konfeksi Kaos, Busana Muslim Anak, dll

Info Lebih Lanjut, hubungi :
ANDRI NURWIYONO
Jl. Imam Nawawi No.8 Rt.03 Rw.01 Gedang
Porong- Sidoarjo
Phone. 089 83 308 408, 081 230 60 924
e-mail : ferdiazpratama@yahoo.com

Percetakan Andri

Percetakan Andri Pratama
Menerima Pesanan :
Kalender, Undangan, Kartu Nama, Nota, Brosure, Kwitansi
dan segala macam cetakan lainnya.

Info Lebih Lanjut, hubungi :
ANDRI NURWIYONO
Jl. Imam Nawawi No.8 Rt.03 Rw.01 Gedang
Porong- Sidoarjo
Phone. 089 83 308 408, 081 230 60 924
e-mail : ferdiazpratama@yahoo.com

Rabu, 02 Desember 2009

Rejeki Yang Telah Ditetapkan

"Kesungguhan dalam mencari rejeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukkan basirah (mata hati) yang tertutup."

Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggunganjawaban itu, tidak lain ialah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala. Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta’ala akan ridho apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ke tempat maksiat.

Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rezeki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing masing. Sebagaimana Allah berfirman, “Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.”.

Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia.

Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.

Jaminan yang telah diberi oleh Allah dalam hal rezeki ini seperti difirmankan dalam Al-Qur anul Karim, “Perintahlah keluargamu mendirikan sholat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.”

Karena Allah Ta’ala telah menjamin rezeki hamba hamba-Nya, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.

Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-nya.

Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rezkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur an “Berbekal bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.”

Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang orang dhu’afa.


Rabu, 25 November 2009

EPSON RX590

Model : Epson RX590
Technologi : Inkjet
Resolution : 5760 x 1440 dpi
Print Speed : 30 ppm
Copy Speed : 30 ppm
Scanner Type : Flatbed Scanner
Scanner Resolution : 1200 x 2400 dpi
Hi-Speed USB 2.0

Harga Bekas : 2.000.000,- / Nego
Kondisi : Bagus / 2 bulan pemakaian

Bila berminat hubungi kami :
ANDRI NURWIYONO
Jl. Imam Nawawi No.8 Gedang - Porong
Telp. 089 83 308 408
e-mail : ferdiazpratama@yahoo.com

Senin, 23 November 2009

Kedudukan Disisi Allah

"Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana kedudukanmu disisi Allah, maka perhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu "

Inilah timbangan yang benar, seperti disabdakan dalam hadist Nabi; "Apabila engkau hendak mengetahui manzilahmu disisi Allah, maka perhatikanlah bagaimana manzilah Allah dihatimu. Sungguh Allah Azza wa jalla menempatkan posisi seorang hamba disisinya, apabila sihamba mendudukkan Allah dalam dirinya"

Dimaksud manzilah tersebut yang dikehendaki adalah hamba Allah dalam ibadahnya teguh dan tetap mengingat Allah dalam segala perbuatannya. Al Fudhail bin Iyad menerangkan, "Sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada Allah adalah menurut kedudukannya disisi-Nya atau kedudukan Allah dalam jiwanya"

Dalam hal yang sama Abu Thalib Al Makky berkata "Apabila seorang hamba mengenal Allah ia tentu akan menghormatinya, memuliakannya, dengan kecintaannya, kerelaannya, demikian juga Allah akan memandangnya bersama rahmat dan kasih sayang-Nya"

Seorang hamba yang taat kepada Allah, maka dalam segala hal ia mendahulukan Allah. Si hamba tidak ingin berkompromi dalam hubungannya dengan Allah. Ia pasti mendahulukan Allah, dalam menetapi waktu ibadah, disiplin dalam dzikir dan membaca Al Qur'an serta amalan lain yang sudah menjadi kewajiban rutin baginya. Tidak mungkin Allah akan memperhatikan si hamba, apaibila sihamba sendiri tidak menunaikan kewajiban dengan baik dan sempurna terhadap Allah. Demikian juga bagaimana seorang hamba mampu menempatkan Allah dihatinya kalau ibadah dan amalnya tidak teratur.

kedudukan hamba di hadapan Allah Ta'ala adalah bagaimana ia menjalankan amal ibadah yang menjadi kewajibannya. Ibadah hamba itulah yang akan memastikan bahwa sihamba dekat dengan Allah.

Dua Perbedaan Wujud Allah

"Dua perbedaan sebagai dalil yang menunjukkan adanya Allah Ta'ala. Pertama orang yang berpegang pada dalil; Dengan melihat dari wujudnya Allah Swt itu menujukkan adanya alam. Kedua; Adanya alam menunjukkan wujudnya Allah Ta'ala. Pendapat pertama lebih melihat Allah itu memang ada, maka terjadilah alam semesta. Yang ada itu adalah Allah, karena Allah yang menciptakan alam. Pendapat ini menegaskan bahwa wujud yang sebenarnya adalah milik Allah Ta'ala. Itulah wujud asalnya. Adapun dalil yang menyebut adanya alam ini menunjukkan adanya Allah (adanya makhluk menunjukan adanya Al Khalik), adalah karena belum sampainya si hamba kepada Allah. Untuk memperkuat pendapat pertama, lalu timbul pertanyaan, kapan Allah itu ghaib(tidak ada), lalu mencari dalil untuk mengenal-Nya? Sejak kapan Allah itu jauh, sehingga memerlukan jalan untuk menemui-Nya?"

Manusia yang dibesarkan melalui rahim seorang ibu, lalu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna, bermula adalah tidak mengetahui apa-apa (jahil). Kemudian Allah melengkapi mereka dengan kekhususan tubuh dengan anggota badan, lalu mereka aktif menggunakan peralatan jasmani mereka, sehingga mereka mengetahui kebutuhan yang diperlukan, lalu mereka menjadi insan yang berpengetahuan. Dari ketidaktahuan menjadi tahu. Seperti yang difirmankan Allah; "Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu penglihatan, pendengaran dan hati agar kamu bersyukur" (QS. An Nahl; 78)
Kelengkapan untuk manusia diberikan oleh Allah, maksudnya agar manusia mengenal Allah secara sempurna. Pengetahuan yang meliputi lahir dan batin, pikiran dan ikhtiar. Al Qur'an mengisyaratkan hal ini dalam kalimat, "Allah menciptakan manusia dengan memberikan pendengaran, penglihatan, hati sanubari" Pemberian Allah kepada manusia dengan kelengkapan indera mereka agar mampu memikirkan kekuasaan Allah, lalu mendekatkan diri kepada Maha Pencipta. Mentaati peraturan dan hukum yang diciptakan-Nya, agar dengan demikian mereka termasuk orang yang bersyukur.

Ada dua golongan manusia menurut pembagian tentang pengenalan mereka kepada Allah;

Pertama;
Yang mengenal Allah langsung mengetahui wujudnya Allah tanpa melihat ciptaan Allah. Mengenal Allah tanpa perantaraan selain Allah itu sendiri. Sebab sekalipun tanpa benda-benda ciptaan, sihamba akan langsung makrifat kepada Allah. Mata hati sihamba telah mampu menyingkap tabir penghalang(hijab) yang menutup antara sihamba dengan Allah, atas izin Allah juga tentunya. Penglihatan dengan mata hati iman ini mengangkat sihamba ketingkat makrifat yang terpuji. Golongan ini tak lagi memerlukan wujud alam ciptaan Allah ini dalam mengenal-Nya. Akan tetapi bukan berarti alam ciptaan Allah yang sangat dasyat ini tidak dapat dipergunakan untuk mengenal Allah, justru setelah itu dengan mengenal ciptaan-Nya manusia akan lebih akrab dengan-Nya.

Kedua;
Hamba yang mempergunakan alat alam dan seluruh wujud ciptaan-Nya sebagai jalan untuk mengenal Allah menurut ukuran logika. Golongan ini disebut orang yang sedang menuju kepada Allah Swt.

Perjalanan menuju Allah ialah dengan mengenal Allah selain mengikuti petunjuk diatas, yang paling sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Saw. ialah dengan mempelajari ilmu tauhid(Aqaid) dengan mengenal sifat-sifat Allah bersama pembagiannya. Pemantapan iman diperlukan bagi setiap orang, baik yang awam maupun yang alim, melalui ilmu yang telah dikenal dalam islam. Mengenal ilmu yang berkaitan dengan Allah berarti si hamba mendekati Allah dengan ilmunya sendiri yang diwahyukan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw. Sebab tanpa ilmu Aqaid manusia mengenal tanpa ilmu.

Hamba yang telah mengenal Allah tanpa alam semesta dan lain-lainnya, adalah orang yang mendapatkan sinar cahaya Allah. Sedangkan hamba yang menuju Allah untuk mengenal-Nya adalah orang yang sedang mencari sinar cahaya-Nya.

Orang yang telah sampai kepada Allah(wasil), terpancar dari padanya cahaya yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia melihat Allah dengan mata hatinya(basirah). Hamba yang telah mencapai tingkat ini telah sampai kepada haqul yaqin. Cahaya yang memancar itu disebut "anwarul muwajjahah".

Beramal agar termasyhur

"Tanamlah wujud dirinya pada tanah yang dalam, karena tidak akan tumbuh suatu tanaman pun, apabila tidak ditanam."

Syekh Ahmad Ataillah mengingatkan,"Tidak ada amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan beramal agar termasyhur" Karena perbuatan itu walaupun demi kebaikan namamu, akan tetapi bertolak sebagai amal yang ikhlas. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apalagi diikuti kehendak lain yang bukan ibadah, akan membawa si hamba angkuh dan lupa diri. Karena disaat tertentu musuh manusia yang bernama Iblis akan mudah merasuk kedalam hati anak Adam yang kelak akan dapat menghancurkan diri dan imannya. Memilih kemasyhuran melalui amal ibadah sangat bertentangan dengan tujuan ibadah itu sendiri.

Ibrahim bin Adham mengingatkan bahwasanya perbuatan ingin kemasyhuran melalui ibadah, adalah karena terlalu mencintai dunia dan kedudukan. Abu Ayyub Al Baktiyani mengingatkan, bahwasanya Allah tidak membenarkan seorang berlaku demikian, kecuali ia merahasiakan dan tidak menyiarkan amal ibadahnya.

Seorang sufi yang bernama Basyar Ibnu Haris berwasiat; Janganlah keinginanmu untuk dikenal, karena akan menghilangkan nilai agamamu, dan karenannya tidak akan menerima manisnya akhirat.

Sesungguhnya keinginan terkenal melalui ibadah kepada Allah adalah perbuatan yang kerdil dan kotor, karena orang seperti ini jelas-jelas tidak mengenal dirinya sebagai hamba Allah. Sebab seorang hamba yang mengenal dirinya seharusnya tawadu' tidak memamerkan kelebihan ibadahnya. Sebab dengan tawadu' itu akan mampu membersihkan dirinya, dan mengangkat pada maqam yang tinggi serta mendapatkan kecintaan yang sebenar-benarnya.

Keinginan untuk dikenal sebagai ahli ibadah telah membuat cacatnya ibadah dan rusaknya amal. Nabi Isa as. bertanya kepada sahabat-sahabatnya,"Dimana biji itu tumbuh"?" sahabat-sahabatnya menjawab, "Di bumi." Nabi Isa as. pun menjelaskan bahwa hikmah tidak akan tumbuh melainkan dikedalaman hati, seperti kedalaman bumi. Biji yang akan tumbuh menjadi batang dan buah lahir dari tempat yang orang lain tidak tahu keberadaannya, tersembunyi dibalik bumi, akan tetapi ia memberikan manfaat kepada manusia dan alam sekitarnya tanpa mengatakan apa-apa tentang pertumbuhannya itu. Nabi Muhammad Saw mengingatkan bahwasanya ibadah shalat dan ibadah yang lainnya yang paling mulia dan indah adalah melakukannya dengan sempurna dan orang lain tidak mengetahuinya. Ibadah yang dirahasiakan adanya.

Banyak kisah-kisah sahabat dan para waliyullah yang menceritakan kebesaran jiwa dan keagungan martabat ibadah mereka yang tidak suka ibadah mereka dipamerkan, atau dirinya dikenal sebagai ahli ibadah. Berusaha menghindarkan diri dari kemasyhuran duniawi yang rendah. Ia lebih mengkhususkan dirinya dalam ibadah yang tersembunyi serta meninggalkan keramaian duniawi yang bisa merusak amal ibadah dan merendahkan martabatnya dihadapan AllahSwt.

Pengalaman dan penghayatan rohani yang suci menghendaki seorang hamba dalam ibadah lebih mengutamakan mencari ridha Allah dari pada ridha manusia. Keabadian yang sesungguhnya dan kenikmatan ibadah yang sebenarnya berada pada keheningan, jauh dari hiruk pikuk yang akan membuat ibadah menjadi rusak. Cara yang paling baik untuk menghilangkan rasa riya' dari kemasyhuran diri dari seorang hamba ialah dengan menanamkan rasa tawadu' dan rasa malu dalam hatinya berhadapan dengan Allah. Pamer amal tidak hanya merusak keimanan, akan tetapi juga mencemari hati manusia dengan bercak-bercak hitam, yang kelak akan menutupi seluruh permukaan hatinya. Akibat lainnya ialah lahirnya rasa angkuh yang merendahkan jiwa. Nabi bersabda,"Barang siapa yang berendah diri, maka Allah akan mengangkatnya kepada martabat kemuliaan. Barang siapa berlaku angkuh, maka Allah akan merendahkan martabatnya. Sesungguhnya Allah suka kepada orang taqwa lagi suka menyamarkan dirinya dari ketenaran dunia. orang-orang ini kalau tak tampak tidak pernah dicari, kalau mereka hadir tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu yang selalu menunjukkan arah."

Ruh amal itu adalah ikhlas

"Ada beraneka ragam jenis amal menurut situasi dan kondisi yang masuk kedalam hati manusia. Kerangkanya adalah perbuatan yang jelas, sedang ruhnya adalah ikhlas"

Tanda dari semua kemakrifatan dan sifat al ihsan kepada Allah tidak lain adalah tekun dan rajin beribadah. Itu semua dilaksanakan menurut kehendak dan niat tiap hamba. Memperbanyak amal ibadah juga menurut kemauan dan kemampuan hamba itu sendiri-sendiri. Ada yang bagus sholatnya, ada yang bagus puasanya, ada yang bagus wiridnya, ada pula yang bagus sedekah dan infaknya. Disamping itu ada pula yang tekun membaca Al-Qur'an dan memahami artinya, ada pula yang tekun mempelajari ilmu.

Amal ibadah itu terikat dengan niat seseorang, dan ia berlaku sesuai dengan niat pula. Hasil dari suatu amal ibadah ditentukan oleh bagaimana seseorang menempatkan niat dalam hatinya ketika beramal ibadah.

Amal ibadah yang kuat tegaknya dan kokoh ikatannya dengan iman ialah dilaksanakannya oleh hati yang ikhlas. Karena ikhlas adalah ruh amal, dan amal itu menunjukkan tegaknya iman.

Ikhlas beramal menunjukkan bagaimana seorang hamba menyatakan dirinya dihadapan Allah ketika beribadah. Serta menghidupkan ikhlas sebagai salah satu syarat dalam beramal ibadah. Amal ibadah yang ikhlas ialah dengan melaksanakan semata-mata karena Allah belaka. Beribadah karena Allah dan memohon hanya kepada-Nya.

Dalam Al-Qur'an disebutkan, "Kami tidak menyembah kecuali kepadamu, dan kami tidak menyekutukan Engkau dalam ibadah kami." Pernyataan ibadah yang ikhlas ini menjadi syarat diterimanya ibadah seorang hamba.

Adapun lawan dari ikhlad itu riya' yang bersifat khafi (ringan) atau jelas-jelas berbuat riya' berat. Sedang riya' akan merusak iman, karena termasuk sifat syirik walupun ringan. Riya' umumnya melakukan amal ibadah dengan rasa bangga diri dan angkuh. Suka mempertontonkan amal untuk mencari pujian dan sanjungan manusia.

Amal dalam ikhlas itu ada dua cara. Pertama, beramal karena Allah, tidak ada sandaran amal selain karena Allah Ta'ala belaka. Inilah sifat ahli ibadah. Kedua, beribadah atas kehendak Allah sesuai dengan tata tertibnya dan peraturan Allah, inilah sifat hamba Allah.

Imam Abi Qasim Al Qusyairy menerangkan dua kedudukan ini dengan penjelasan bahwasanya hal ini menunjukkan dua kedudukan yang saling menjelaskan diantara keduanya. Kedua hal ini sebenarnya tidak saling bertentangan, karena yang pertama adalah raganya ibadah, berupa hukum, dan yang kedua adalah jiwanya ibadah berwujud ikhlas.

Makrifat Kepada Allah

"Apabila Allah Ta'ala telah membukakan pintu makrifat untuk seorang hamba, karena dengan makrifat Allah itu, engkau tidak perlu kepada amalanmu yang memang sedikit itu. Karena Allah telah membuka makrifat untukmu itu, berarti Allah berkehendak memberi anugerah-Nya kepadamu, sedang amal-amal yang yang engkau lakukan adalah semacam pemberian ketaatan kepada-Nya. Kalau demikian, dimanakah letaknya perbandingan antara ketaatan seorang hamba dengan anugerah yang diterima dari Allah?"

Makrifat kepada Allah adalah tujuan yang dijangkau oleh seorang hamba, dan cita-cita yang diharapkan. Apabila seorang hamba menghadap Allah Ta'ala karena telah dibukakan baginya pintu makrifat, maka ia akan mendapatkan ketenangan dalam makrifat itu, karena didalamnya akan dijumpai kenikmatan rohani yang berlimpah-limpah. Senantiasa akan berlimpah juga kepadanya hasrat memperbanyak amal ibadahnya, disebabkan begitu banyak keutamaan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan makrifat itu seorang hamba akan semakin dekat kepada Allah karena ia dapat memandang Allah dengan makrifatnya itu. Dimaksud makrifat adalah melihatnya seorang hamba dengan mata hati sanubarinya.

Hamba Allah yang dekat kepada Allah, ia akan mampu mengenal Allah dengan baik, karena makrifat menurut arti harfiahnya adalah mengenal. Maksudnya adalah dekat dengan Allah serta mengenal sifat-sifat-Nya serta beriman penuh dengan sifat-sifat yang mulia itu.

Dalam ibadahnya seorang hamba yang bermakrifat kepada Allah dengan pengertian diatas, berarti ia benar-benar sanggup mengenal Allah. Dengan mata hatinya yang bersinar ia mendekati Allah untuk mendapatkan rahmat dan kasih sayangnya.

Makrifat bagi seorang hamba diperlukan dalam beribadah dan beramal, sebab dengan demikian ia akan sampai kepada tingkat hamba yang haqqul yaqin. Karena mengetahui bahwa Allah Ta'ala itu ada.

Makrifat kepada Allah dalam tiga tahap ini adalah tugas yang harus dimiliki seorang hamba dari waktu ke waktu dalam menyempurnakan iman dan ibadahnya kepada Allah.

Kedudukan makrifat tidak boleh bertentangan dengan akidah dan syari'at yang bersumber kepada Al-Qur'an dan sunah Rasulullah Saw.

Hamba yang bermakrifat kepada Allah, tidak berarti ia mengurangi ibadah dan amalnya, justru semakin tinggi makrifat seorang hamba, makin banyak pula ibadahnya dan makin sempurna amalnya. Hamba yang saleh dan sempurna kemakrifatannya, adalah orang yang kokoh keimanannya dan tekun ibadahnya. sebab antara iman dan amal saleh tidak dapat dipisahkan dalam ibadah islam. Seperti firman Allah dalam surat At Tin ayat 6,"kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka pahala yang tidak putus-putus."

Makrifat kepada Allah (menurut akidah dan syariat) hendaklah berdasar iman dan amal saleh. Walaupun pahala bagi seorang hamba yang makrifat bukanlah tujuan, sebab yang menjadi tujuan dan yang dicarinya ialah ridha Allah Ta'ala sebagai anugerah yang sangat berharga.

Tanda Orang Arif

"Tanda-tanda orang yang arif dalam amal, ia tidak membanggakan amal ibadahnya. Berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kekhilafannya kepada Allah."

Orang yang arif adalah orang yang tidak membanggakan amal ibadahnya. Orang seperti ini kurang pengharapannya kepada Allah, ketika ia sedang berhadapan dengan rintangan yang menimpa. Sedang sikap orang yang bijaksana dalam meneguhkan imannya selalu berpegang teguh kepada kekuasaan yang ada pada Allah.

Para arifin dalam imannya kepada Allah selalu menyaksikan kebenaran-Nya dari atas permadani hidupnya. Ia tidak dapat memutuskan hubungannya dengan Allah karena telah menyaksikan kebesaran Allah dari hidupnya sendiri. Ia tidak menjadikan amal ibadahnya sebagai kebanggaan hidupnya, akan tetapi ia jadikan sebagai suatu kewajiban seorang hamba kepada Khaliq yang senantiasa ia khawatirkan, kalau-kalau ibadahnya itu tidak diterima oleh Allah Swt.

Orang arifin yang selalu memperhatikan dirinya dan mengkuatirkan amalnya dengan harapan rahmat dari Allah Swt menempatkan diri mereka dengan jiwa yang waspada dan tenang. Karena kewaspadaan jiwa dalam ibadah serta ketenangannya akan memberikan manusia sifat-sifat utama yang terdengar dari suara hati nuraninya sendiri yang suci bersih.

Adapun orang yang berbuat dosa dan kesalahan, akan tetapi ia enggan mengharapkan rahmat dan ampunan Allah, maka ia telah menumbuhkan rasa angkuh akan kemampuan dirinya tanpa rahmat dan pertolongan Allah. Orang ini telah mengesampingkan Allah dalam tauhid-Nya. Orang seperti ini telah melibatkan dirinya dalam dosa dan kesalahan.

Pengharapan kepada Allah, selalu menjadi hiasan hati orang-orang arif, selalu menjadi keinginan manusia yang beriman akan kebutuhannya kepada Allah Ta'ala, Karena meyakini pemberian Allah itu sangat luas, dan rahmat Allah itu sangat banyak. Apabila pada suatu saat si hamba Allah ini tergelincir dalam perbuatan maksiat, ia akan menemukan jalan keluar, karena kecintaan dan rahmat Allah akan melepaskannya. Karena sihamba Allah yakin kasih sayang Allah akan mendatanginya, melindungi dan memberikan pertolongan kepadanya.

Pemberian Allah berupa rahmat dan pertolongan akan diterima seorang hamba, apabila seorang hamba yang berlumuran dosa sadar akan kelemahan dirinya, dan yakin kepada rahmat-Nya. Keyakinan seperti ini akan memberi peluang bagi manusia berdosa agar cepat-cepat bertobat dan memohon ampunan kepada Allah Swt. seperti yang dia yakini, sebagai satu-satunya tempat ia bersandar.

Sesungguhnya Allah telah menciptakan agama untuk manusia, bersamaan dengan memberikan kemampuan mereka untuk beramal. Karena dengan beramal itu manusia akan berupaya melepaskan dirinya dari dosa dan kesalahan, serentak akan memberikan tempat kepadanya hiasan keutamaan diri.

Iman yang paling tinggi kualitasnya, adalah iman yang mampu melepaskan dirinya dari belenggu yang membebaninya, melalui ujian. Inilah watak yang paling berharga, ketika seorang mukmin sadar akan dirinya atas pemberian rahmat dan karunia Allah yang begitu banyak yang telah ia terima. Oleh karena belenggu dosa yang begitu banyak membebani dirinya dan terikat dalam hatinya, sihamba tidak merasakan rahmat dan nikmat Allah yang telah banyak diterimanya.

Berpikir dengan akal sehat itu lebih utama dan lebih agung pahalanya dari berpikir dengan akal yang sakit, oleh karena dosa yang menjauhkannya dari rahmat Allah. Karena rahmat Allah itu lebih dekat dengan orang yang beriman sesuai dengan firman Allah, "Sesungguhnya Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik (orang beriman)"

Demikian juga ketaatan kepada Allah bukanlah suatu amal yang harus dipamerkan, atau semisalnya, karena ketaatan adalah hiasan jiwa yang bertahtakan ketulusan didalamnya. Ketaatan itu sendiri belum menjadi jaminan seseorang untuk masuk surga. Karena hal ini memerlukan ujian yang sangat istemewa. Sebab ketaatan adalah karunia yang sangat mahal harganya bagi hamba Allah yang perlu mendapatkan penjagaan terus menerus sepanjang hayatnya. Setiap karunia yang menjadi anugerah Allah, berupa apapun terutama jiwa yang taat, adalah merupakan hidayah dari Allah Swt.

Meyakini bahwa iman dan ketaatan seseorang kepada sang khaliq adalah hidayah Allah, maka seorang hamba yang arif akan selalu memberi bobot jiwanya, serta menghindarkan dari dirinya kedengkian, kesombongan, demikian juga kebanggaan. sebab sifat yang disebut terakhir, akan memberi kesempatan iblis mendapatkan ruang jiwa kita. Hal ini sangat berbahaya.

Keimanan kepada Allah sebagai penangkal bagi orang mukmin yang arif, adalah perisai paling ampuh, dan senjata yang paling tajam, saat berhadapan dengan musuh Allah dan musuh orang beriman, yakni iblis. Hanya dengan iman islam yang telah dipilih oleh Allah yang akan memberikan kekuatan dan senjata pamungkas. Hamba Allah yang mempergunakan islam sebagai senjata pamungkas melawan iblis, itulah yang akan mendapatkan kemenangan dan kasih sayang-Nya. Karena Allah telah memperingatkan, "Barang siapa yang mengikuti agama selain islam, maka tidak diterima amal ibadahnya, sedangkan dialam akhirat ia termasuk orang yang rugi." (QS. Ali-Imran; 85)

Ketahuilah bahwa berpegang teguh pada keutamaan dan kemuliaan lebih diperlukan dari pada berpegang pada perbuatan yang bertentangan dengan peraturan islam, satu amal yang tercela. Adapun perbuatan yang tercela itu datang mengunjungi kita, disebabkan jiwa kita tentang kebenaran dan kemuliaan sangat minim. Sedangkan memenuhi jiwa kita dengan ajaran-ajaran islam adalah wajib, agar kita terhindar dari pengaruh ajaran yang bukan islam. Agama islam itu wajib dijadikan hujjah dalam perjalanan hidup kita, agar terhindar dari perbuatan yang bebal dan bodoh.

Orang yang membanggakan amal ibadahnya, berarti ia menyandarkan dirinya hanya pada amal ibadahnya, hal ini tidak diperkenankan dalam syariat islam. Semua amal ibadah hanyalah disandarkan kepada Allah Ta'ala. Karena setiap hamba Allah dalam ibadah dan amal adalah karena Allah Ta'ala belaka.

Berbangga kepada amal ibadah yang telah dilaksanakan sama dengan syirik. Karena perbuatan seperti itu selain membanggakan diri dihadapan Allah, bahwa ia telah bisa beramal dan beribadah, ia telah mendahului Allah, seakan-akan amal ibadahnya telah diterima Allah Swt. Orang seperti ini seakan-akan amal itu datang dari kemampuannya sendiri, lalu mengandalkan amal itu untuk mencapai tujuan.

Orang-orang arif dan bermakrifat kepada Allah, lebih banyak bersyukur kepada-Nya, karena banyak kesempatan baginya untuk beramal. Dengan rahmat dan kasih sayang itulah ia mampu melaksanakan semua amal ibadahnya dalam kehidupan ini.

Tanda Orang Yang Mengandalkan Amalnya

1) “Setengah dari tanda bahwa seorang itu bersandar diri pada kekuatan amal usahanya, yaitu berkurangnya pengharapan terhadap rahmat karunia Allah ketika terjadi padanya suatu kesalahan atau dosa.”

Tanda orang yang mengandalkan amal perbuatannya adalah kurang ada pengharapan akan rahmat Allah sewaktu ia melakukan kesalahan atau maksiat. Sesungguhnya, baik taat atau pun tidak, setiap orang wajib selalu mengharapkan karunia dan rahmat Allah atas dirinya. Jangan sekali-sekali enggan mengharap atas rahmat dan karunia Allah!
Syariat menganjurkan kita mengusahakan amal ibadah, tetapi hakikat menganjurkan kita tidak bersandar pada amal ibadah itu (bahwa amal ibadahlah yang mengantarkan kita pada keselamatan dunia-akhirat). Bersandarlah tetap kepada Allah.

zahir syariat ---> memerintahkan manusia agar beramal/berusaha
hakikat syariat ---> melarang manusia bersandar pada amal

Orang yang selalu mengandalkan amal ini berarti mengesampingkan Sifat Rahman dan Rahim Allah Swt.. Padahal, dia dapat beramal pun karena atas rahmat dan karunia Allah Swt.

“Katakanlah: Hanya karena merasakan karunia dan rahmat Allah-lah kamu bergembira. Itulah yang lebih baik (berguna) bagi mereka daripada apa yang dapat mereka kumpulkan sendiri.“ (Q.S. Yunus:58)

Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka“. (Q.S. Al-Qashas:78)

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (Q.S. Yusuf:87)


Wajib bagi orang yang taat, jangan sekali-sekali berpandangan bahwa dirinya itu ahli taat! Jangan pula beranggapan ketaaatannya bisa mendekatkan dirinya kepada Allah dan memasukkannya ke dalam surga. Sebaliknya, harus beranggapan yang dijalankan itu semata-mata karunia Allah.
Tanpa anugerah Allah Swt. orang tidak akan bisa berbuat taat. Jadi, taat yang dijalankan seseorang bukanlah karena amalnya, melainkan karena anugerah dari Allah Swt.. Dengan berbuat seperti ini, manusia akan terhindar dari sifat congkak, sombong, dan tidak mengandalkan usahanya sendiri.


Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia."
(Q.S. An-Naml:40)

Kewajiban bagi setiap orang yang menjalankan maksiat, yaitu harus mendekatkan diri pada Allah dengan mengharapkan ampunan dan rahmat Allah. Sedangkan, orang yang taat menjalankan ibadah tidak patut mengharapkan pahala dari amal taatnya. Orang yang taat harus banyak-banyak bersyukur. Bersyukur tidak dijadikan Allah sebagai orang ahli maksiat.

Selalu bersandar pada Allah adalah sifat orang yang makrifat, sedangkan yang bersandar pada selain Allah adalah sifat orang-orang bodoh yang lupa kepada Allah. Yang dikatakan makrifat adalah hanya bersandar kepada Allah Swt..

Maafkanlah orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. Biarkanlah itu semua urusan Allah. Betul-betullah berkhidmat kepada Allah. Semua yang ada ini adalah Af’al Allah. Leburkanlah diri kita pada Yang Qadim, jangan munculkan lagi yang baharu. Tujuan ilmu tauhid adalah agar manusia sampai merasakan tidak ada lagi jarak-antara dengan Allah Swt..(Allahu a'lam)

(Dari Kitab Al-Hikam dengan ulasan dari Shaikh Sirad)

Kiai Yazid dan Si Anjing Hitam

SYAHDAN, pada zaman dahulu, ada seorang kiai besar yang sangat dihormati. Orang-orang di sekitarnya memanggi Kiai Yazid --lengkapnya Kiai Abu Yazid al-Bustami. Santrinya banyak. Mereka belajar di bawah bimbingan Sang Guru. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia; ada yang dari Irak, Iran, Arab, Tanah Gujarat, Negeri Pasai dan sebagainya. Mereka setia dan tunduk patuh atas semua naSihat dan bimbingan Sang Mursyid.

Selain Kiai Yazid punya santri di pesantrennya, banyak pula masyarakat yang menginginkan nasihat dari beliau. Mereka pun datang dari berbagai penjuru dunia. Ada yang menanyakan tentang perjalanan spiritual yang sedang dihayatinya, ada pula yang bertanya cara menghilangkan penyakit-penyakit hati, bahkan tak jarang yang menginginkan usaha mereka lancar serta keperluan-keperluan yang Sifatnya pragmatis dan teknis lainnya. Semuanya dilayani dan diterima dengan baik oleh Sang Kiai.

Meski demikian, kadang-kadang terjadi pula tamu yang datang dengan maksud menguji dan mencobai Sang Kiai: apakah Kiai Yazid itu memang benar-benar waskita (tajam penglihatan mata batinnya)?

Para tamu yang datang, bukan hanya didominasi kalangan lelaki saja, tetapi juga ada perempuan sufi yang belajar kepadanya. Mereka ingin ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana yang dilalui Sang Kiai. Di antara mereka ada yang berhasil, ada pula yang gagal di tengah jalan. Semua itu, kata Kiai Yazid, memang bergantung pada ketekunannya masing-masing. Beliau hanya mengarahkan dan membimbing; semuanya bergantung dari keputusan-Nya jua.

Karena ke-’alim-annya itu, akhirnya masyarakat memang benar-benar menganggap bahwa Kiai Yazid adalah sosok yang patut dijadikan tauladan atau panutan. Bukan hanya itu. Para kalangan sufi pun menghormati kedalaman rasa Sang Kiai. Para sufi pun banyak yang mengajak diskusi, konsultasi, musyawarah dan membahas soal-soal spiritual yang pelik-pelik. Nglangut. Hadir dan menghadirkan. Berpisah dan bersatu.

Kedalaman rasa Sang Kiai, misalnya, ia bisa saja merasa kesepian atau "menyendiri" ketika berkumpul dengan orang banyak. Di tempat lain, Sang Kiai sangat merasakan ramai, padahal ia sendirian. Begitulah, semua rasa itu tertutup oleh penampilan beliau yang memikat, mengayomi, melindungi, mengajar, dan gaul dengan banyak orang.
***
Pada suatu hari, Kiai Yazid sedang menyusuri sebuah jalan. Ia sendirian. Tak seorang santri pun diajaknya. Ia memang sedang menuruti kemauan langkah kakinya berpijak; tak tahu ke mana arah tujuan dengan pasti. Ia mengalir begitu saja. Maka dengan enjoy-nya ia berjalan di jalan yang lengang nan sepi.

Tiba-tiba dari arah depan ada seekor anjing hitam berlari-lari. Kiai Yazid merasa tenang-tenang saja, tak terpikirkan bahwa anjing itu akan mendekatnya. E….ternyata tahu-tahu sudah dekat; di sampingnya. Melihat Kiai Yazid --secara reflek dan spontan-- segera mengangkat jubah kebesarannya. Tindakan tadi begitu cepatnya dan tidak jelas apakah karena -barangkali-- merasa khawatir: jangan-jangan nanti bersentuhan dengan anjing yang liurnya najis itu!

Tapi, betapa kagetnya Sang Kiai begitu ia mendengar Si Anjing Hitam yang di dekatnya tadi memprotes: "Tubuhku kering dan aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!"

Mendengar suara Si Anjing Hitam seperti itu, Kiai Yazid masih terbengong: benarkah ia bicara padanya?! Ataukah itu hanya perasaan dan ilusinya semata? Sang Kiai masih terdiam dengan renungan-renungannya.

Belum sempat bicara, Si Anjing Hitam meneruskan celotehnya: "Seandainya tubuhku basah, engkau cukup menyucinya dengan air yang bercampur tanah tujuh kali, maka selesailah persoalan di antara kita. Tetapi apabila engkau menyingsingkan jubah sebagai seorang Parsi (kesombonganmu), dirimu tidak akan menjadi bersih walau engkau membasuhnya dengan tujuh samudera sekalipun!"

Setelah yakin bahwa suara tadi benar-benar suara Si Anjing Hitam di dekatnya, Kiai Yazid baru menyadari kekhilafannya. Secara spontan pula, ia bisa merasakan kekecewaan dan keluh kesah Si Anjing Hitam yang merasa terhina. Ia juga menyadari bahwa telah melakukan kesalahan besar; ia telah menghina sesama makhluk Tuhan tanpa alasan yang jelas.

"Ya, engkau benar Anjing Hitam," kata Kiai Yazid, "Engkau memang kotor secara lahiriah, tetapi aku kotor secara batiniah. Karena itu, marilah kita berteman dan bersama-sama berusaha agar kita berdua menjadi bersih!"

Ungkapan Kiai Yazid tadi, tentu saja, merupakan ungkapan rayuan agar Si Anjing Hitam mau memaafkan kesalahannya. Jikalau binatang tadi mau berteman dengannya, tentu dengan suka rela ia mau memaafkan kesalahannya itu.

"Engkau tidak pantas untuk berjalan bersama-sama denganku dan menjadi sahabatku! Sebab, semua orang menolak kehadiranku dan menyambut kehadiranmu. Siapa pun yang bertemu denganku akan melempariku dengan batu, tetapi Siapa pun yang bertemu denganmu akan menyambutmu sebagai raja di antara para mistik. Aku tidak pernah menyimpan sepotong tulang pun, tetapi engkau memiliki sekarung gandum untuk makanan esok hari!" kata Si Anjing Hitam dengan tenang.

Kiai Yazid masih termenung dengan kesalahannya pada Si Anjing Hitam. Setelah dilihatnya, ternyata Si Anjing Hitam telah meninggalkannya sendirian di jalanan yang sepi itu. Si Anjing Hitam telah pergi dengan bekas ucapannya yang menyayat hati Sang Kiai.

"Ya Allah, aku tidak pantas bersahabat dan berjalan bersama seekor anjing milik-Mu! Lantas, bagaimana aku dapat berjalan bersama-Mu Yang Abadi dan Kekal? Maha Besar Allah yang telah memberi pengajaran kepada yang termulia di antara makhluk-Mu yang terhina di antara semuanya!" seru Kiai Yazid kepada Tuhannya di tempat yang sepi itu.

Kemudian, Kiai Yazid dengan langkah yang sempoyongan meneruskan perjalanannya. Ia melangkahkan kakinya menuju ke pesantrennya. Ia sudah rindu kepada para santri yang menunggu pengajarannya.
***
Keunikan dan ke-nyleneh-an Kiai Yazid memang sudah terlihat sejak dulu. Kepada para santrinya, beliau tidak selalu mengajarkan di pesantrennya saja, tetapi juga diajak merespon secara langsung untuk membaca ayat-ayat alam yang tergelar di alam semesta ini. Banyak pelajaran yang didapat para santri dari Sang Kiai; baik pembelajaran secara teoritis maupun praktis dalam hubungannya dengan ketuhanan.

Suatu hari, Kiai Yazid sedang mengajak berjalan-jalan dengan beberapa orang muridnya. Jalan yang sedang mereka lalui sempit dan dari arah yang berlawanan datanglah seekor anjing. Setelah diamati secara seksama, ternyata ia bukanlah Si Anjing Hitam yang dulu pernah memprotesnya. Ia Si Anjing Kuning yang lebih jelek dari Si Anjing Hitam. Begitu melihat Si Anjing Kuning tadi terlihat tergesa-gesa --barangkali karena ada urusan penting-- maka Kiai Yazid segera saja mengomando kepada para muridnya agar memberi jalan kepada Si Anjing Kuning itu.

"Hai murid-muridku, semuanya minggirlah, jangan ada yang mengganggu Si Anjing Kuning yang mau lewat itu! Berilah dia jalan, karena sesungguhnya ia ada suatu keperluan yang penting hingga ia berlari dengan tergesa-gesa," k ata Kiai Yazid kepada para muridnya.

Para muridnya pun tunduk-patuh kepada perintah Sang Kiai. Setelah itu, Si Anjing Kuning melewati di depan Kiai Yazid dan para santrinya dengan tenang, tidak merasa terganggu. Secara sepintas, Si Anjing Kuning memberikan hormatnya kepada Kiai Yazid dengan menganggukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa terima kasih. Maklum, jalanan yang sedang dilewati itu memang sangat sempit, sehingga harus ada yang mengalah salah satu; rombongan Kiai Yazid ataukah Si Anjing Kuning.

Si Anjing Kuning telah berlalu. Tetapi rupanya ada salah seorang murid Kiai Yazid yang memprotes tindakan gurunya dan berkata: "Allah Yang Maha Besar telah memuliakan manusia di atas segala makhluk-makhluk-Nya. Sementara, kiai adalah raja di antara kaum sufi, tetapi dengan ketinggian martabatnya itu beserta murid-muridnya yang taat masih memberi jalan kepada seekor anjing jelek tadi. Apakah pantas perbuatan seperti itu?!"

Kiai Yazid menjawab: "Anak muda, anjing tadi secara diam-diam telah berkata kepadaku: "Apakah dosaku dan apakah pahalamu pada awal kejadian dulu sehingga aku berpakaian kulit anjing dan engkau mengenakan jubah kehormatan sebagai raja di antara para mistik (kaum sufi)?" Begitulah yang sampai ke dalam pikiranku dan karena itulah aku memberikan jalan kepadanya."

Mendengar penjelasan Kiai Yazid seperti itu, murid-muridnya manggut-manggut. Itu merupakan pertanda bahwa mereka paham mengapa guru mereka berlaku demikian. Semuanya diam membisu. Mereka tidak ada yang membantah lagi. Mereka pun terus meneruskan perjalanannya. ***
(Inspirasi cerita: Kisah Abu Yazid al-Busthomi, tokoh besar dari kalangan kaum sufi)

Surat dari Sahabat Masa Depan Tahun 2050

Aku hidup di tahun 2050.
Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun.
Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.

Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi.
Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku.

Aku teringat disaat berumur 5 tahun
Semua sangat berbeda.
Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.
Berbeda dengan sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral.

Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan.
Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.
Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng.

Tetapi sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja.

Aku masih ingat beberapa tahun yang lalu seringkali ada pesan yang mengatakan:

”JANGAN MEMBUANG BUANG AIR”

Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut.
Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.

Sekarang, pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus.
Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu.

Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.

Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi.
80% makanan adalah makanan sintetis.

Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari.
Tetapi sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.

Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.
Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau, karena tidak ada air.

Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis.

Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.

Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar.

"Manusia tidak bisa membuat air."

Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, dan membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.

Morphology manusia mengalami perubahan...
…yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.

Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup:
137 m3 per orang per hari.
[31,102 galon]

Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.

Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas.

Umur hidup manusia sekarang rata-rata adalah 35 tahun.

Di tahun 2050 hanya beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi yang mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata.

Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata.

Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.

Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.

Dahulu kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli.

Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau.

Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau.

Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.

Suatu hari dia bertanya:
- "Ayah! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?"

Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku...

Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian... dan banyak orang lain juga!

Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan.

Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya.

Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.

Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi ...

... Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!

BANTU KAMI TEMANKU....

walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunanmu kelak.

AIR DAN BUMI DEMI MASA DEPAN!