Kamis, 10 Desember 2009

Grosir

Grosir PRATAMA Collection
Menerima Pesanan :
Tas Wanita, Tas Kerja, Dompet Wanita, Dompet Laki-laki
Konfeksi Kaos, Busana Muslim Anak, dll

Info Lebih Lanjut, hubungi :
ANDRI NURWIYONO
Jl. Imam Nawawi No.8 Rt.03 Rw.01 Gedang
Porong- Sidoarjo
Phone. 089 83 308 408, 081 230 60 924
e-mail : ferdiazpratama@yahoo.com

Percetakan Andri

Percetakan Andri Pratama
Menerima Pesanan :
Kalender, Undangan, Kartu Nama, Nota, Brosure, Kwitansi
dan segala macam cetakan lainnya.

Info Lebih Lanjut, hubungi :
ANDRI NURWIYONO
Jl. Imam Nawawi No.8 Rt.03 Rw.01 Gedang
Porong- Sidoarjo
Phone. 089 83 308 408, 081 230 60 924
e-mail : ferdiazpratama@yahoo.com

Rabu, 02 Desember 2009

Rejeki Yang Telah Ditetapkan

"Kesungguhan dalam mencari rejeki yang telah dijamin oleh Allah akan mendapatkannya, dan mengurangi dari apa yang diwajibkan padamu, adalah termasuk sifat yang menunjukkan basirah (mata hati) yang tertutup."

Sesuatu yang telah dijamin oleh Allah kepada seorang hamba adalah rezeki. Sesuatu yang dimintakan pertanggungjawaban oleh Allah adalah rezeki juga. Pertanggunganjawaban itu, tidak lain ialah menempatkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada para hamba ialah dengan menjadikan harta berfungsi ibadah. Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.

Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala. Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta’ala akan ridho apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ke tempat maksiat.

Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba. Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rezeki. Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing masing. Sebagaimana Allah berfirman, “Tiada seekor binatang melata pun di muka bumi ini, melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.”.

Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing. Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan. Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia.

Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.

Jaminan yang telah diberi oleh Allah dalam hal rezeki ini seperti difirmankan dalam Al-Qur anul Karim, “Perintahlah keluargamu mendirikan sholat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki.”

Karena Allah Ta’ala telah menjamin rezeki hamba hamba-Nya, maka kesungguhan hamba untuk berikhtiar dan memohon dari Allah sangat dituntut. Pemberian Allah kepada manusia sesuai dengan ketaatan manusia kepada Allah.

Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-nya.

Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rezkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur an “Berbekal bekallah kamu, maka sebaik baik bekal adalah menunjukkan ketakwaan kepada Allah.”

Ketakwaan dalam harta, tidak lain adalah memberikan harta itu kepada hamba Allah yang berhak menerima. Karena dalam harta setiap muslim itu terkandung hak orang orang dhu’afa.


Rabu, 25 November 2009

EPSON RX590

Model : Epson RX590
Technologi : Inkjet
Resolution : 5760 x 1440 dpi
Print Speed : 30 ppm
Copy Speed : 30 ppm
Scanner Type : Flatbed Scanner
Scanner Resolution : 1200 x 2400 dpi
Hi-Speed USB 2.0

Harga Bekas : 2.000.000,- / Nego
Kondisi : Bagus / 2 bulan pemakaian

Bila berminat hubungi kami :
ANDRI NURWIYONO
Jl. Imam Nawawi No.8 Gedang - Porong
Telp. 089 83 308 408
e-mail : ferdiazpratama@yahoo.com

Senin, 23 November 2009

Kedudukan Disisi Allah

"Apabila engkau ingin mengetahui bagaimana kedudukanmu disisi Allah, maka perhatikanlah dimana Allah telah menempatkan dirimu "

Inilah timbangan yang benar, seperti disabdakan dalam hadist Nabi; "Apabila engkau hendak mengetahui manzilahmu disisi Allah, maka perhatikanlah bagaimana manzilah Allah dihatimu. Sungguh Allah Azza wa jalla menempatkan posisi seorang hamba disisinya, apabila sihamba mendudukkan Allah dalam dirinya"

Dimaksud manzilah tersebut yang dikehendaki adalah hamba Allah dalam ibadahnya teguh dan tetap mengingat Allah dalam segala perbuatannya. Al Fudhail bin Iyad menerangkan, "Sesungguhnya seorang hamba beribadah kepada Allah adalah menurut kedudukannya disisi-Nya atau kedudukan Allah dalam jiwanya"

Dalam hal yang sama Abu Thalib Al Makky berkata "Apabila seorang hamba mengenal Allah ia tentu akan menghormatinya, memuliakannya, dengan kecintaannya, kerelaannya, demikian juga Allah akan memandangnya bersama rahmat dan kasih sayang-Nya"

Seorang hamba yang taat kepada Allah, maka dalam segala hal ia mendahulukan Allah. Si hamba tidak ingin berkompromi dalam hubungannya dengan Allah. Ia pasti mendahulukan Allah, dalam menetapi waktu ibadah, disiplin dalam dzikir dan membaca Al Qur'an serta amalan lain yang sudah menjadi kewajiban rutin baginya. Tidak mungkin Allah akan memperhatikan si hamba, apaibila sihamba sendiri tidak menunaikan kewajiban dengan baik dan sempurna terhadap Allah. Demikian juga bagaimana seorang hamba mampu menempatkan Allah dihatinya kalau ibadah dan amalnya tidak teratur.

kedudukan hamba di hadapan Allah Ta'ala adalah bagaimana ia menjalankan amal ibadah yang menjadi kewajibannya. Ibadah hamba itulah yang akan memastikan bahwa sihamba dekat dengan Allah.

Dua Perbedaan Wujud Allah

"Dua perbedaan sebagai dalil yang menunjukkan adanya Allah Ta'ala. Pertama orang yang berpegang pada dalil; Dengan melihat dari wujudnya Allah Swt itu menujukkan adanya alam. Kedua; Adanya alam menunjukkan wujudnya Allah Ta'ala. Pendapat pertama lebih melihat Allah itu memang ada, maka terjadilah alam semesta. Yang ada itu adalah Allah, karena Allah yang menciptakan alam. Pendapat ini menegaskan bahwa wujud yang sebenarnya adalah milik Allah Ta'ala. Itulah wujud asalnya. Adapun dalil yang menyebut adanya alam ini menunjukkan adanya Allah (adanya makhluk menunjukan adanya Al Khalik), adalah karena belum sampainya si hamba kepada Allah. Untuk memperkuat pendapat pertama, lalu timbul pertanyaan, kapan Allah itu ghaib(tidak ada), lalu mencari dalil untuk mengenal-Nya? Sejak kapan Allah itu jauh, sehingga memerlukan jalan untuk menemui-Nya?"

Manusia yang dibesarkan melalui rahim seorang ibu, lalu tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna, bermula adalah tidak mengetahui apa-apa (jahil). Kemudian Allah melengkapi mereka dengan kekhususan tubuh dengan anggota badan, lalu mereka aktif menggunakan peralatan jasmani mereka, sehingga mereka mengetahui kebutuhan yang diperlukan, lalu mereka menjadi insan yang berpengetahuan. Dari ketidaktahuan menjadi tahu. Seperti yang difirmankan Allah; "Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu penglihatan, pendengaran dan hati agar kamu bersyukur" (QS. An Nahl; 78)
Kelengkapan untuk manusia diberikan oleh Allah, maksudnya agar manusia mengenal Allah secara sempurna. Pengetahuan yang meliputi lahir dan batin, pikiran dan ikhtiar. Al Qur'an mengisyaratkan hal ini dalam kalimat, "Allah menciptakan manusia dengan memberikan pendengaran, penglihatan, hati sanubari" Pemberian Allah kepada manusia dengan kelengkapan indera mereka agar mampu memikirkan kekuasaan Allah, lalu mendekatkan diri kepada Maha Pencipta. Mentaati peraturan dan hukum yang diciptakan-Nya, agar dengan demikian mereka termasuk orang yang bersyukur.

Ada dua golongan manusia menurut pembagian tentang pengenalan mereka kepada Allah;

Pertama;
Yang mengenal Allah langsung mengetahui wujudnya Allah tanpa melihat ciptaan Allah. Mengenal Allah tanpa perantaraan selain Allah itu sendiri. Sebab sekalipun tanpa benda-benda ciptaan, sihamba akan langsung makrifat kepada Allah. Mata hati sihamba telah mampu menyingkap tabir penghalang(hijab) yang menutup antara sihamba dengan Allah, atas izin Allah juga tentunya. Penglihatan dengan mata hati iman ini mengangkat sihamba ketingkat makrifat yang terpuji. Golongan ini tak lagi memerlukan wujud alam ciptaan Allah ini dalam mengenal-Nya. Akan tetapi bukan berarti alam ciptaan Allah yang sangat dasyat ini tidak dapat dipergunakan untuk mengenal Allah, justru setelah itu dengan mengenal ciptaan-Nya manusia akan lebih akrab dengan-Nya.

Kedua;
Hamba yang mempergunakan alat alam dan seluruh wujud ciptaan-Nya sebagai jalan untuk mengenal Allah menurut ukuran logika. Golongan ini disebut orang yang sedang menuju kepada Allah Swt.

Perjalanan menuju Allah ialah dengan mengenal Allah selain mengikuti petunjuk diatas, yang paling sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad Saw. ialah dengan mempelajari ilmu tauhid(Aqaid) dengan mengenal sifat-sifat Allah bersama pembagiannya. Pemantapan iman diperlukan bagi setiap orang, baik yang awam maupun yang alim, melalui ilmu yang telah dikenal dalam islam. Mengenal ilmu yang berkaitan dengan Allah berarti si hamba mendekati Allah dengan ilmunya sendiri yang diwahyukan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Saw. Sebab tanpa ilmu Aqaid manusia mengenal tanpa ilmu.

Hamba yang telah mengenal Allah tanpa alam semesta dan lain-lainnya, adalah orang yang mendapatkan sinar cahaya Allah. Sedangkan hamba yang menuju Allah untuk mengenal-Nya adalah orang yang sedang mencari sinar cahaya-Nya.

Orang yang telah sampai kepada Allah(wasil), terpancar dari padanya cahaya yang dianugerahkan Allah kepadanya. Ia melihat Allah dengan mata hatinya(basirah). Hamba yang telah mencapai tingkat ini telah sampai kepada haqul yaqin. Cahaya yang memancar itu disebut "anwarul muwajjahah".

Beramal agar termasyhur

"Tanamlah wujud dirinya pada tanah yang dalam, karena tidak akan tumbuh suatu tanaman pun, apabila tidak ditanam."

Syekh Ahmad Ataillah mengingatkan,"Tidak ada amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan beramal agar termasyhur" Karena perbuatan itu walaupun demi kebaikan namamu, akan tetapi bertolak sebagai amal yang ikhlas. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apalagi diikuti kehendak lain yang bukan ibadah, akan membawa si hamba angkuh dan lupa diri. Karena disaat tertentu musuh manusia yang bernama Iblis akan mudah merasuk kedalam hati anak Adam yang kelak akan dapat menghancurkan diri dan imannya. Memilih kemasyhuran melalui amal ibadah sangat bertentangan dengan tujuan ibadah itu sendiri.

Ibrahim bin Adham mengingatkan bahwasanya perbuatan ingin kemasyhuran melalui ibadah, adalah karena terlalu mencintai dunia dan kedudukan. Abu Ayyub Al Baktiyani mengingatkan, bahwasanya Allah tidak membenarkan seorang berlaku demikian, kecuali ia merahasiakan dan tidak menyiarkan amal ibadahnya.

Seorang sufi yang bernama Basyar Ibnu Haris berwasiat; Janganlah keinginanmu untuk dikenal, karena akan menghilangkan nilai agamamu, dan karenannya tidak akan menerima manisnya akhirat.

Sesungguhnya keinginan terkenal melalui ibadah kepada Allah adalah perbuatan yang kerdil dan kotor, karena orang seperti ini jelas-jelas tidak mengenal dirinya sebagai hamba Allah. Sebab seorang hamba yang mengenal dirinya seharusnya tawadu' tidak memamerkan kelebihan ibadahnya. Sebab dengan tawadu' itu akan mampu membersihkan dirinya, dan mengangkat pada maqam yang tinggi serta mendapatkan kecintaan yang sebenar-benarnya.

Keinginan untuk dikenal sebagai ahli ibadah telah membuat cacatnya ibadah dan rusaknya amal. Nabi Isa as. bertanya kepada sahabat-sahabatnya,"Dimana biji itu tumbuh"?" sahabat-sahabatnya menjawab, "Di bumi." Nabi Isa as. pun menjelaskan bahwa hikmah tidak akan tumbuh melainkan dikedalaman hati, seperti kedalaman bumi. Biji yang akan tumbuh menjadi batang dan buah lahir dari tempat yang orang lain tidak tahu keberadaannya, tersembunyi dibalik bumi, akan tetapi ia memberikan manfaat kepada manusia dan alam sekitarnya tanpa mengatakan apa-apa tentang pertumbuhannya itu. Nabi Muhammad Saw mengingatkan bahwasanya ibadah shalat dan ibadah yang lainnya yang paling mulia dan indah adalah melakukannya dengan sempurna dan orang lain tidak mengetahuinya. Ibadah yang dirahasiakan adanya.

Banyak kisah-kisah sahabat dan para waliyullah yang menceritakan kebesaran jiwa dan keagungan martabat ibadah mereka yang tidak suka ibadah mereka dipamerkan, atau dirinya dikenal sebagai ahli ibadah. Berusaha menghindarkan diri dari kemasyhuran duniawi yang rendah. Ia lebih mengkhususkan dirinya dalam ibadah yang tersembunyi serta meninggalkan keramaian duniawi yang bisa merusak amal ibadah dan merendahkan martabatnya dihadapan AllahSwt.

Pengalaman dan penghayatan rohani yang suci menghendaki seorang hamba dalam ibadah lebih mengutamakan mencari ridha Allah dari pada ridha manusia. Keabadian yang sesungguhnya dan kenikmatan ibadah yang sebenarnya berada pada keheningan, jauh dari hiruk pikuk yang akan membuat ibadah menjadi rusak. Cara yang paling baik untuk menghilangkan rasa riya' dari kemasyhuran diri dari seorang hamba ialah dengan menanamkan rasa tawadu' dan rasa malu dalam hatinya berhadapan dengan Allah. Pamer amal tidak hanya merusak keimanan, akan tetapi juga mencemari hati manusia dengan bercak-bercak hitam, yang kelak akan menutupi seluruh permukaan hatinya. Akibat lainnya ialah lahirnya rasa angkuh yang merendahkan jiwa. Nabi bersabda,"Barang siapa yang berendah diri, maka Allah akan mengangkatnya kepada martabat kemuliaan. Barang siapa berlaku angkuh, maka Allah akan merendahkan martabatnya. Sesungguhnya Allah suka kepada orang taqwa lagi suka menyamarkan dirinya dari ketenaran dunia. orang-orang ini kalau tak tampak tidak pernah dicari, kalau mereka hadir tidak dikenal. Hati mereka bagaikan lampu yang selalu menunjukkan arah."